Rabu, 26 Juni 2013

Kisah Orpheus dan Eurydice

Orpheus adalah putra Apollo,
dewa terang, dengan Calliope, dewi
musik dan puisi epik. Selain
tampan dan berbudi luhur,
Orpheus merupakan pemusik yang
handal. Apabila jari-jarinya telah
diayunkan pada dawai-dawai
liranya dan suaranya yang merdu
bersenandung, tak satupun yang
tidak terpesona dibuatnya. Bahkan
hewan-hewan buas akan berbaring
berdampingan dengan mangsanya
dan pepohonan seolah tercabut
dari akarnya untuk mendengarkan
permainan lira dan suara Orpheus
yang memikat.
Suatu hari, ketika sedang berjalan-
jalan dalam hutan, Orpheus
berjumpa dengan Eurydice, seorang
peri hutan yang jelita. Mereka
saling terpesona dan jatuh cinta.
Hati Orpheus tertawan oleh sinar
mata Eurydice yang lembut dan
gerai rambut hitamnya yang lincah
berayun, sedangkan Eurydice
terpesona oleh sosok Orpheus yang
gagah. Mereka kemudian
mengikrarkan diri untuk menjadi
pasangan yang abadi.
Sungguh pasangan yang serasi.
Sebab selain kejelitaan Eurydice
sebanding dengan ketampanan
Orpheus, hanya Eurydicelah yang
mampu menari dengan indahnya
diiringi permainan musik Orpheus.
Berdua mereka hidup dalam
kebahagiaan yang berakar pada
cinta sejati yang telah
dianugerahkan dan mereka
pelihara bersama.
Sayang sekali kebahagiaan mereka
tidaklah sekekal cinta mereka. Para
Parcae, dewi-dewi takdir, yang
keras hati telah memutuskan
riwayat Eurydice harus berakhir.
Orpheus benar-benar patah hati
dan sangat kehilangan kekasihnya,
maka ia pun meratap dengan
memetik dawai hingga lagu
sedihnya memenuhi hutan.

Dunia seakan kiamat bagi Orpheus.
Hari-hari dan mimpi malamnya
dihantui oleh bayangan Eurydice
yang seolah mengajaknya
melanjutkan nyanyian dan tarian
yang tak sempat terselesaikan di
lembah tersebut. Akhirnya timbul
tekad yang sungguh berani dalam
diri Orpheus. Dia memutuskan
pergi ke Hades, kerajaan orang-
orang mati, untuk menjemput
kembali jiwa Eurydice.
Orpheus memang bukan pahlawan
seperti Hercules yang sanggup
menyelesaikan dua belas tugas
raksasa. Bukan pula Theseus yang
membunuh Minotaur, makhluk
setengah manusia setengah
banteng yang memangsa rakyatnya.
Dia juga bukan Jason yang
memimpin para pahlawan
mengambil bulu domba emas di
Colchis.
Namun cintanya yang besar pada
Eurydice dan derita berat yang
harus ditanggung karena
kehilangan dirinya telah memberi
Orpheus keberanian dan kekuatan
seluruh pahlawan. Banyak orang
berusaha membujuk agar dia
mengurungkan niatnya.
Dia pergi meninggalkan
kerajaannya untuk menuju ke
Hades. Baru saja kakinya
melangkah masuk ke dalam
kegelapan gua di kaki Gunung
Avernus yang berhubungan dengan
Hades ketika seseorang menepuk
pundaknya. Ternyata orang
tersebut adalah, duta dewata yang
bertugas mengantar jiwa-jiwa
menuju ke Hades. Seperti yang
lain, juga membujuk Orpheus
membatalkan niatnya.
"Kukagumi keberanianmu mencoba
melakukan hal yang bahkan
membuat pahlawan seperkasa
Hercules pun berpikir dua kali
sebelum bertindak, Orpheus.

Namun tidakkah kau tahu bahwa
kau mencoba meraih yang tak
teraih, mengharapkan sesuatu yang
mustahil?
Tidak tahukah kau bahwa Pluto
penguasa Hades buta terhadap
penderitaan manusia dan tuli
terhadap isak tangis mereka?
Hanya kekecewaanlah yang akan
menantikan di penghujung
perjalananmu Orpheus, karena itu
urungkanlah niatmu! Mari kuantar
kau kembali ke atas sana." Tetapi
keteguhan hati Orpheus tak
tergoyahkan. "Antarkan aku
menghadap Pluto Penguasa
Hades!" adalah jawaban Orpheus
kepada. Ada sesuatu dalam
suaranya yang membuat berdiam
diri sejenak sebelum kemudian
maju memimpin langkah-langkah
Orpheus menuju Hades.

Akhirnya setelah berjam-jam
menembus kesenyapan dan
kegelapan di sekeliling mereka,
tibalah mereka di tepian Sungai
Styx, sungai suci yang harus
diseberangi para jiwa agar sampai
di Hades. Terdengar bunyi
gemercik air yang jatuh di atas
bebatuan. Dari jauh tampak sosok
kurus Charon, dewa yang bertugas
menyeberangkan jiwa-jiwa,
menepikan perahunya. Mulanya
dia menolak menyeberangkan
Orpheus karena Orpheus adalah
makhluk hidup yang tidak boleh
masuk ke dalam kegelapan Hades.
"Tidak tahukah bahwa aku hanya
membawa jiwa-jiwa saja
menyeberangi sungai ini dengan
perahuku? Kau makhluk fana yang
berdaging dan berdarah pulanglah!
Tunggulah giliranmu mati untuk
kuseberangkan ke sana!"
Orpheus hanya terdiam, kemudian
disapukannya jari-jarinya pada
dawai-dawai liranya. Ting-a ling-a-
ling! Suara yang demikian jernih
bergema di kesunyian Hades. Mata
Charon terbelalak takjub
mendengarkan nada-nada
mempesona yang belum pernah
didengarnya sebelumnya. "Suara
apa ini?" tanyanya.

Orpheus
melangkahkan kakinya dengan
mantap menaiki perahu sambil
terus memainkan liranya diikuti
olehnya.
Charon terus mendengarkan nada-
nada indah yang mempesonakan
dirinya, sehingga kemudian tanpa
disadarinya direngkuhnya dayung.
Dan perahu tersebut meluncur di
atas permukaan sungai suci yang
tenang tersebut sampai ke
seberang, di depan gerbang Hades.
Hal yang sama terjadi pada
Cerberus. Anjing penjaga gerbang
Hades, yang termashyur karena
kegarangannya terhadap makhluk
yang mencoba memasuki atau jiwa-
jiwa yang berusaha keluar dari
Hades, tersebut demikian terbuai
oleh musik Orpheus sehingga
mengizinkannya lewat...
Di Hades,  Orpheus menjumpai
pemandangan yang suram tak
menyenangkan. Tampak olehnya
jiwa-jiwa berbaris menunggu
keputusan dijatuhkan oleh Justitia,
dewi keadilan, dan Hakim-hakim
Hades bagi mereka apakah mereka
harus melanjutkan hidup di
Tartarus (neraka) atau di Padang
Elysium (surga) sesuai dengan
perbuatan mereka semasa hidup.
Duduk di atas tahta Hades yang
bertatahkan batu-batu mulia Pluto,
penguasa Hades yang keras hati,
dewa yang ditakuti setiap makhluk
hidup.
Di sampingnya duduk Proserpine,
ratu Hades sendiri. Di sekeliling
mereka berdirilah tiga Fury atau
Eumenides: Tisiphone, Megaera,
dan Alecto, yaitu dewi-dewi
pembalasan yang bertugas
menghukum jiwa-jiwa yang semasa
hidupnya berbuat jahat. Wajah
Pluto yang sudah menakutkan
tersebut tampak lebih seram ketika
dilihatnya datang beserta Orpheus.
"siapakah makhluk kurang ajar ini
yang merasa dunia berada dalam
genggaman tangannya sehingga
tanpa menyayangkan hidupnya
sendiri berani datang kemari, ke
kerajaan orang-orang matiku?"
geram Pluto kepada Mercury.
Segera Orpheus menjelaskan siapa
dirinya dan maksud
kedatangannya. "Penguasa Hades
yang agung, aku Orpheus, putra
Apollo dari Calliope, datang kemari
untuk menjemput jiwa istriku.",
"Peri hutan Eurydice. Kami hidup
berbahagia di atas sana sampai
pada hari saat takdir kejam
merenggutnya dari sisiku. Kini aku
memohon kemurahan hatimu agar
bersedia mengembalikan jiwa
Eurydice pada kehidupan. Sebab
kurasakan terlalu singkat
kebahagiaan yang telah kami
nikmati, terlampau pendek hari-
hari yang telah kami jalani
bersama."

"Lancang! Kesombongan macam
apa yang kau pertontonkan di
hadapanku ini? Tak tahukah kau
bahkan Jupiter Penguasa Semesta,
sendiri enggan untuk meminta
padaku mengembalikan jiwa orang
yang telah mati kembali pada
kehidupan? Dan kau! Atas nama
siapa yang telah membuatmu
berani mengajukan permohonan
yang mustahil ini?"
"Atas nama Cinta yang telah
melahirkan kehidupan, yang
kuasanya mencakupi seluruh
makhluk dan mengatasi kita semua,
bahkan para dewa-dewi. Atas
namanyalah aku datang kemari
dan berdiri memohon di
hadapanmu."
"Cinta!" ujar Plutodingin, "untuk
apa kaubawa-bawa Cinta dalam hal
ini? Apa urusannya Cinta dengan
orang-orang mati? Terangkan
padaku, Orpheus, apa arti Cinta!"
"Penguasa Hades yang agung,
sungguh aku tak pernah
berkehendak mengguruimu tentang
makna Cinta, tetapi dengarlah apa
arti cintaku pada Eurydice! Panjang
jarak yang harus kutempuh kemari,
bukannya sedikit bahaya yang
menghadang di perjalananku,
Sungai Styx telah kuseberangi, dan
Cerberus kuhadapi. Segala derita
kutanggung dan susah payah
kuabaikan hanya dengan harapan
agar Eurydice boleh kembali ke
sisiku. Dialah belahan jiwaku dan
pangkal kebahagiaan hidupku. Jika
ini tak layak disebut Cinta, maka
aku tak tahu lagi apa yang
dimaksud dengan Cinta."

Orpheus menyampaikan semua hal
tersebut dalam nyanyian diiringi
petikan dawai-dawai liranya. Dalam
sekejap semua makhluk di Hades
terdiam. Tak ada satupun yang
bersuara.

Semuanya seakan terbius
oleh permainan lira Orpheus dan
suaranya yang mengalun merdu.
Pluto sendiri, yang telinganya
terbiasa oleh ratapan jiwa-jiwa
yang menangisi orang-orang yang
mereka tinggalkan, tersentuh
hatinya oleh nyanyian Orpheus.
Terlebih-lebih bagi Proserpine
yang juga merupakan dewi musim
semi. Nyanyian tersebut menembus
jiwanya. Teringat olehnya hari-hari
bahagianya di atas sana sebelum
diperistri Pluto. Teringat olehnya
akan hangatnya sinar matahari,
akan kicau burung yang merdu,
gemercik air sungai yang sebening
kristal dalam perjalanannya
menuju ke hilir, dan akan
pasangan-pasangan kekasih yang
berlarian di padang bunga yang
bermandikan cahaya matahari yang
keemasan, sehingga tanpa disadari
air matanya telah berderai
membasahi pipinya.
"Orpheus, oh, Orpheus! Kasih!"
tiba-tiba terdengar satu suara
menyeruak keheningan di antara
yang hadir...

Nyanyian Orpheus terhenti. Dari
barisan para jiwa muncullah
Eurydice yang segera berlari
mendapatkan kekasihnya. Orpheus
berusaha merengkuh bayangan
Eurydice dalam pelukannya.
Namun karena sebagai jiwa
Eurydice tak dapat disentuh
makhluk hidup, akhirnya mereka
hanya dapat saling memandang ke
dalam mata mereka yang penuh
kerinduan akan satu sama lain.
Semua yang hadir terkejut campur
cemas menyaksikan hukum yang
telah digariskan dewata dilanggar.
Yang mati bersatu dengan yang
hidup. Tak ada yang dapat
membayangkan kemurkaan Pluto
penguasa Hades dan hukuman
yang akan dijatuhkannya.

Mercury buru-buru, memisahkan
Eurydice dari Orpheus. Pluto
penguasa Hades terdiam
menyaksikan adegan tersebut.
Namun hanya sekejap. Ketika
dilihatnya air mata mengalir di
wajah Proserpine hatinya yang
keras pun melunak. Dia bangkit
dari tahtanya dan dengan suara
berat bersumpah akan
mengabulkan apapun permohonan
Orpheus.

"Demi air Sungai Styx yang
mengalir di kerajaan ini, katakan
kepadaku apa yang kau kehendaki,
dan aku akan memberikannya
kepadamu!" Orpheus memohon
agar jiwa Eurydice boleh kembali
bersamanya ke dunia untuk
melanjutkan hari-hari bahagia
mereka. "Penguasa Hades yang
agung, semoga kau mengizinkan
Eurydice kembali bersamaku ke
atas sana melanjutkan hari-hari
penuh cinta kami.

Tak kuasa aku membayangkan dia
harus berada di tempat ini tanpa
diriku atau aku di atas sana tanpa
dirinya. Biarkan dia kembali agar
aku boleh menghayati lagi
kebahagiaan yang ditimbulkan oleh
cintanya dan dia oleh cintaku. Bila
hal ini tidaklah mungkin, semoga
engkau berbelas kasih mengizinkan
aku tinggal di sini di sisinya."
"Biarlah terjadi seperti
kehendakmu Orpheus. Tetapi
sebagaimana aku menepati
sumpahku, kau juga harus berjanji
padaku untuk memenuhi syarat
yang kuberikan," kata Pluto.
"Katakan saja, Penguasa Hades
yang agung! Bersama Eurydice di
sampingku, tak ada syarat yang
terlalu berat untuk kujalani ."
Kemudian Pluto bersabda, "Biarlah
jiwa Eurydice berjalan mengikutimu
kembali ke dunia atas sana.
Namun pantang bagimu menengok
ke belakang, ke arahnya, selama
kau berada dalam kegelapan
Hades. Jika syarat ini kau langgar,
maka Eurydice akan kembali
berada di sini, di antara jiwa-jiwa
yang lain, saat itu juga.

Orpheus menyanggupi syarat yang
tampaknya ringan tersebut.
Kemudian pasangan kekasih
tersebut meninggalkan Hades.
Gerbang Hades yang dijaga
Cerberus telah mereka lewati,
demikian pula Sungai Styx telah
mereka seberangi. Sejauh itu
Orpheus sanggup menahan diri
untuk tidak menengok ke belakang.
Namun semakin jauh mereka
meninggalkan kegelapan di
belakang, semakin gelisahlah hati
Orpheus diusik keragu-raguan.

Apakah jiwa Eurydice
mengikutinya? Apakah raungan
Cerberus tidak membuat gentar
jiwa Eurydice melangkah keluar
dari gerbang Hades? Apakah
Charon tidak menolak
menyeberangkan jiwa Eurydice? Oh
dewa! Kalau saja dia boleh yakin
bahwa Eurydice ada bersamanya.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut
mengusik batin Orpheus. Semakin
jauh langkahnya menuju terang,
semakin gelaplah pikirannya.
Akhirnya, tak tahan oleh keragu-
raguan yang mengusik hatinya,
Orpheus melanggar syarat yang
diberikan oleh penguasa Hades.
Dia menoleh ke belakang untuk
melihat jiwa Eurydice.
"...pantang bagimu menengok ke
belakang, ke arahnya, selama kau
berada dalam kegelapan Hades...."
Maka... "Orpheus, ah, Orpheus!
Ketidaksabaranmukah? Keragu-
raguanmukah? Atau takdir
kejamkah yang mengkhianati cinta
kita dan membuatmu melanggar
syarat yang telah diberikan
padamu atas kesempatan bagi kita
untuk bersatu kembali? Kuulurkan
tanganku padamu namun kutahu
aku tak mungkin lagi menjadi
milikmu di dunia atas sana?" desah
jiwa Eurydice memilukan.
Dan Orpheus melihat bayangan
Eurydice memudar dalam
kegelapan Hades. Sia-sia
lengannya terulur mencoba
menggapai jiwa Eurydice.

Bayangan
Eurydice telah sirna. Dia berlari
kembali mencoba mengejarnya.
Sampai di tepian Sungai Styx dia
memohon dengan ratapan pada
Charon agar bersedia
menyeberangkannya. Namun
kesempatan kedua tak pernah ada
bagi Orpheus. Charon menulikan
telinganya terhadap permohonan
Orpheus.
Akhirnya karena lelah meratap dan
memohon Orpheus kembali ke
tempatnya kehilangan Eurydice
untuk kedua kalinya. Sungguh
kehilangan yang sekali ini lebih
berat dirasanya daripada
kehilangan yang pertama. Dan
sungguh ironis! Ditemukannya
liranya menggeletak hanya dua
langkah dari tempat yang disinari
matahari.

Orpheus kembali ke dunianya.
Hari-harinya dijalaninya dengan
murung dan penuh duka. Tak ada
lagi yang mampu mengembalikan
gairah hidupnya. Bahkan bayangan
Eurydice pun tak mampu
membuatnya bersemangat kembali,
karena dia tahu betapa sia-sia
mengharapkan kemurahan dewata
agar Eurydice kembali ke sisinya.
Dia memutuskan untuk tidak
kembali ke Thrace melainkan
mengembara membawa luka di
hatinya. Seolah ingin
disuarakannya kepedihan hatinya
dan ketidakadilan dewata
terhadapnya ke seluruh pelosok
dunia. Dan dawai-dawai liranya
pun tak pernah lagi mengalunkan
lagu suka.

Suatu ketika tibalah Orpheus di
suatu desa yang sedang merayakan
festival untuk menghormati
Bacchus, dewa anggur dan
keriangan. Para wanita yang hadir
dalam festival tersebut membujuk
Orpheus agar memainkan liranya
untuk mengiringi hymne suci bagi
Bacchus.
Dalam dukanya Orpheus menolak.
Rupanya penolakan tersebut
menimbulkan amarah bagi wanita-
wanita pemuja Bacchus. Dalam
keadaan mabuk oleh anggur yang
mereka minum dalam festival,
mereka menyerang Orpheus
dengan golok dan sabit dan
mencabik-cabiknya beramai-ramai.
Terlalu berat dibebani duka di
hatinya Orpheus tidak berusaha
melawan.
Ketika sadar para wanita tersebut
terkejut dengan apa yang telah
mereka perbuat. Namun terlambat!
Orpheus telah mereka bunuh.
Kepalanya hanyut dibawa arus
Sungai Hebrus sementara bibirnya
masih terus menggumamkan
sebuah nama. Nama yang hidup
abadi dalam hatinya, Eurydice.
Para peri yang menemukan kepala
Orpheus kemudian
menguburkannya di Libethra di
lereng Olympus.
Di sana burung-burung penyanyi
berkicau lebih merdu daripada
burung-burung di tempat lain
sejak saat itu. Jiwa Orpheus yang
meninggalkan tubuhnya meluncur
ke kegelapan Hades. Di sana
jiwanya bertemu dan bersatu
dengan jiwa Eurydice.
Meskipun kegembiraan dan
keceriaan tak dikenal di Hades
yang suram, namun jiwa Orpheus
berbahagia dengan jiwa Eurydice,
sebab cinta mereka telah
mengalahkan maut itu sendiri.
Dan lira Orpheus? Lira tersebut
terbawa ombak sampai ke Pulau
Lesbos dan terdampar di
pantainya. Berhari-hari bahkan
berbulan-bulan alat musik itu
tergeletak di sana.
Ketika debur ombak terus
menyentuh dawai-dawainya dengan
berirama, terciptalah melodi-
melodi indah yang mengalun
sampai ke telinga Apollo yang lalu
memungut lira putranya tersebut
dan meletakkannya di angkasa, di
antara bintang-bintang, menjadi
rasi bintang Lira.
Setelah kemegahan dan kemulian
kedua bangsa tersebut berlalu,
maka dongeng-dongeng itu di
anggap cerita bohong yang
bersumber dari khayalan dan
keraguan saja. Dongeng-dongeng
itu kini tidak lebih dari mimpi-
mimpi yang tercipta oleh bayang-
bayang lamunan manusia.

0 komentar:

Posting Komentar

Read and Review please...

 
Coffe, Milk and Tea... Blogger Template by Ipietoon Blogger Template