Rabu, 09 Juli 2014

Gaza, pemilihan presiden, 9 July 2014

Gue belom pernah nangis buat negara orang, tapi malam ini kenapa gw tiba-tiba nangis buat Palestina, waktu gw liat foto2 anak kecil yang mati berlumuran darah, gw ngerasa miris sama diri sendiri, saat anak sekecil itu sudah harus memperjuangkan keadilan, gw yang hidup enak selalu mempertanyakan keadilan karena tugas sekolah yang banyak, beda sama kayak sekolah di tempat lain yg santai-santai aja, lantas apa gw adil diam aja dan cuma berdo'a meratapi nasib mereka di gaza!?

Apa yang udah gw pelajari sebenarnya dalam hidup ini?
Ya Allah... Lindungilah mereka disisi-Mu

Kamis, 26 Juni 2014

In my mind

Orang yang aku sukai? Dia harusnya orang yang ketika aku bilang "Aku baik-baik
saja" maka dia akan menatap mataku dalam dan berkata "Beritahu aku yang
sebenarnya"
aku sering jadi manusia munafik, dan aku pengen dia jadi orang yang mampu
ngeliat aku apa adanya, tanpa ada kepura-puraan...

Minggu, 15 Juni 2014

Fanfiction - Story Of Us : Painful Silence ~ Kyumin Yaoi/ Angst


Story Of Us : Painful Silence

"Aku tak mungkin selamanya disisimu, karena aku tak mau selalu memeluk bayanganmu"

Theme Song: Sam Tsui- The One that Go Away

Sungmin menggeliat, menggeser jauh topi pedora yang semula menutupi wajahnya, dengan gerakan sepersekian detik, sinar mentari menerobos dibalik celah batang-batang ilalang yang bergoyang pelan disenggol angin, Sungmin mengerjap dan merasakan kehangatan. Andai ia berada dalam drama musikal, maka dengan latar dan suasana seperti ini akan terdengar desiran angin yang mendayu-dayu.

Lelaki itu kemudian terdiam lama, menatap cakrawala yang memenuhi penglihatannya, tak mau beranjak, tubuh itu asik diatas pangkuan rumput hijau yang membentang, ditemani ilalang, ditemani suara angin yang berdesir dan menyisakan bau air laut yang sangat memikat. Setidaknya dia tidak sendiri, tapi kemudiam getaran halus disaku celannya membuat Sungmin sadar, dia sedang dicari, dia sedang melarikan diri saat ini.

"Min ah kau dimana?"  suara khas itu mengudara, tedengar khawatir dan was-was, perpaduan antara kegelisahan dan keputusasaan yang tak pernah orang itu tunjukan sebelumnya, ada apa ini? Apakah dia baru sadar setelah kepergian Sungmin? Atau seseorang yang mungkin menyadari 'rasa' itu memberitahukannya pada sosok di ujung telepon sana?

Tidak, dia tidak pernah tahu perasaanku, seharusnya begitu....

"Lee Sungmin... kau harus kembali, bagaimana bisa kau memutuskan kontrak begitu sa-... "

"Ini sudah berakhir.... Kyu." Sungmin mengepalkan tangan kirinya, sakit.... Hanya mengucapkan kalimat itu saja membuatnya merasakan sakit.

Bodoh.... Kau terlalu mencintainya Lee Sungmin, dan ketika ini harus diakhiri, maka perasaan itu akan membuatmu merasakan kematian secara perlahan-lahan.

"Hyung, jangan bercanda... Kau bisa..."

"Bisa apa? Hancur? Sedari awal aku memang sudah hancur, apa yang perlu ku takutkan?"

"Minnie ya! Kau"

"Jangan memanggilku seperti itu, aku benci panggilan itu... Aku benci kau menelponku, aku benci dengan kekhawatiran disuaramu, aku benci... Aku benci kau Cho Kyuhyun"
Kyuhyun terdiam diseberang sana, tak mengerti dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Sungmin, dia butuh waktu untuk menyerap benar-benar apa yang sebenarnya sedang terjadi.

"Kenapa? Apa karena kehadiranku di SJ mengganggumu Hyung?"
Sungmin tertawa keras, membuat Kyuhyun mengernyit tak mengerti, lelaki berwajah stoic itu tidak tahu, ada air mata yang membanjiri pipi putih Sungmin, mengalir deras seakan tak mau berhenti.

"Harusnya kau tidak terlalu baik padaku, harusnya... Sedari awal aku menjauh, bagaimanapun perasaan ini tidak seharusnya ada..." Sungmin terisak dengan tangan kiri membekap mulutnya.

"Hyung, aku minta maaf kalau memang aku melakukan kesalahan... Ini, semuanya begitu mengejutkan, kau dengan pembatalan kontrakmu, dan pergi jauh tanpa pemberitahuan, ada apa Hyung? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa kau begitu membenciku?"
suara itu, Sungmin memang merindukamnya dan tak mengharapkan suara sedihnya, tapi apa? Apa semua itu berguna? Dia dan perasaannya yang menjijikan takkan pernah di mengerti oleh siapapun, termasuk oleh Kyuhyun sendiri, dan... Kalau tiba saatnya Cho Kyuhyun tahu yang sebenarnya, Sungmin pasti akan di benci, dan lelaki itu mana mau melihatnya lagi, oleh karena itu... Sungmin memilih diam, biar perasaan itu hanya dia saja yang mengetahuinya, biar dia yang menanggung sakit itu sendiri, toh selama ini dia pun begitu, tak pernah di mengerti... Tak pernah menangis, tak pernah sampai ia menemukam cinta dari sosok yang salah yang kemudian mengubah Lee Sungmin jadi sosok yang lemah.

"Bukan... Bukan karena aku membencimu Cho, bukan... Tapi perasaan ini, lebih menjijikan daripada sekedar rasa benci."  Sungmin sadar betul dengan apa yang di katakannya, dan Kyuhyun tahu betul apa yang didengarnya barusan.

"Lalu perasaan apa itu?"  Kyuhyun diam menunggu jawaban, sementara Sungmin membeku, bertanya pada hembusan angin yang melintas, haruskan Kyuhyun mengetahui perasaanya?

'Aku mencintaimu....'

ucap Sungmin dalam imajinya, kalimat itu membeku, bibirnya kelu seakan kalimat itu adalah kalimat yang paling hina untuk ia ucapkan, Sungmin tak kuasa sampai tangan kanannya memencet tombol off tanpa sengaja, mereka tak seharunya bersama... Begitu kata Sungmin, begitu juga kata takdir yang diyakininya, bagaimanapun tak akan ada kisah untuk mereka berdua, takkan pernah ada.

"Perasaan itu dan rasa sakit itu, biarlah hanya aku yang merasakan.... " Tangan Sungmin terangkat, dan dengan sekali hentakkan ponselnya yang kembali bergetar melayang hilang dari pandangannya.

" Selamat tinggal Cho Kyuhyun" isak Sungmin dengan lelehan air mata.

 
Coffe, Milk and Tea... Blogger Template by Ipietoon Blogger Template