Kamis, 01 Desember 2016

Myosotis/ Opening

OPENING
Author: Amalia Marina; Picture: Myosotis (Forget me not)



Dahulu kala, ketika awan bukan berwarna biru... Tapi jingga, merona entah karena apa, jalanan yang senyap, air sungai yang berbau bunga mawar, angin yang mendesis menyanyikan elegi, dan semua orang terlelap setelah jamuan yang di berikan kerajaan, bukan jamuan biasa tentunya... Tapi, jamuan yang sudah dibubuhi oleh mantera. Maka, jadilah seluruh wilayah itu seperti kota mati. Tak ada raga dan asa yang hidup di sekitarnya.

Kabut menyelimuti kerajaan, dan tanaman berduri tumbuh menjulang melindungi bangunan-bangunannya, di kamar yang dingin, dengan redup lampu minyak yang tak pernah padam selama hampir lima puluh tahun, tertidur panjang seorang puteri, rambutnya hitam menjuntai sampai ke bawah ranjang, bibirnya merona seperti buah apel, wajahnya putih seputih salju, cantik... Terlebih dengan gaun putih yang dikenakannya. Namun, tak ada yang bisa membangunkan dirinya kecuali sebuah ciuman dari cinta sejati.

Maka, datanglah seluruh pangeran dari setiap kerajaan, menantang peri jahat yang mengutuk sang puteri, mereka datang penuh ego, yakin bahwa merekalah yang terkuat, yang paling berani yang bakal mengalahkan peri jahat, kebanyakan begitu... Mereka datang bukan untuk sang puteri, tapi untuk gelar bahwa mereka lah sang 'juara' .

 Lima puluh tahun berlalu... Dan belum ada yang bisa mematahkan kutukannya.

Sampai seorang pangeran dari seberang samudera datang, rasa penasarannya bukan pada peri jahat yang di sebut-sebut peri paling kuat sejagat raya, rasa penasarannya tertuju pada kerajaan, ada apa di dalamnya? Pasti ada sesuatu yang begitu berharga hingga peri terkuat melindunginya.

Maka, di dorong keingintahuan itu, pangeran dari seberang lautan itu menerjang pepohonan berduri, membunuh iblis-iblis yang diciptakan peri jahat untuk menghadangnya, dan bertarung melawan naga berkulit emas, perjuangan yang sungguh mematikan. Tak mengapa, toh pangeran itu berhasil melewati semuanya.

Dan dibukalah pintu kamar sang puteri, dengan langkah terseok pangeran berjalan masuk, ditemani sinar lampu minyak yang temaram.

Maka kagetlah dia ketika menemukan sang puteri, gadis yang sama yang sering hadir di mimpinya, gadis khayalannya, gadis bunga mawar yang tersenyum dan membuatnya jatuh cinta. Gadis ini... gadis yang ia yakini sebagai takdirnya.

Lalu, tiba-tiba angin mendesis parau,

 'Hanya ciuman dari cinta sejati yang bisa membangunkannya, Dan Hanya kematian yang dia miliki kalau cinta itu mencium yang salah.' 

Pangeran itu tak bergeming, tak memikirkan matang-matang peringatannya, maka dilupakannya bahwa peri jahat masih mengawasi dirinya , di ciumnya puteri tidur, halus ciuman itu seperti bulu dandelion.

Dan benar saja, puteri itu terbangun, mengerjapkan mata lalu tersenyum parau
 "Well, sayangnya kau salah orang, anak muda"
Berubahlah Sang puteri menjadi peri jahat yang tertawa penuh kemenangan, sementara pangeran terlihat pucat pasi ketika melihat tubuh gadisnya terbang di bawa angin ke angkasa. Dia berlari.

"Tidak... Tidak... Takdir kita bahkan belum di mulai" Pangeran mencoba menggapai tubuh puteri, namun sayang... Gadisnya itu terlanjur melebur menjadi kepingan cahaya yang di makan malam, maka mantera hitam itu lenyap, semua kembali seperti biasanya, tak ada tanaman berduri yang melindungi kerajaan, tak ada aroma mawar di air sungai dan semua orang kini terbangun dari tidurnya, mantera itu benar-benar lenyap... Seperti puteri tidur yang juga ikut lenyap untuk selamanya.

"Akan ku berikan apapun... Apapun agar takdir itu bisa di kembalikan... Apapun itu." Pangeran berguman pelan membuat Peri jahat tertawa
 'Cinta adalah kebodohan yang pernah dimiliki oleh manusia'  dan muncullah ide baru, sebuah ide yang terbuat dari skenario terkejam yang pernah dipikirkan oleh peri jahat.

"Akan ku kabulkan..." Peri jahat tersenyum sinis,

"Maka... Sebagai bayarannya, kau akan kehilangan semua ingatanmu tentang dirinya."

Pangeran menatap peri jahat. 'Kalau benar kita di takdirkan bersama, kenangan itu pasti kembali...'

Dan dibuatlah perjanjian terkutuk itu, lagi-lagi pangeran melupakan peringatannya. Dan lagi-lagi peri jahat tertawa penuh kemenangan.

'Ingatan sangatlah rapuh, seperti cinta, maka ketika keduanya tak bisa bekerja sama... Ingatan dan cinta, bisa jadi luka'

Dimulailah petualangan itu, dimana Pangeran masuk kedimensi lain, ke waktu lain, ke jaman lain, ke sisi kehidupan yang lain, berharap... 'Bukankah takdir tak pernah ingkar?' begitu pikirnya. Dia tak pernah tahu, bahwa ingatan bisa saja mengingkari hatinya.



ToBeContinued

Review now

0 komentar:

Posting Komentar

Read and Review please...

 
Coffe, Milk and Tea... Blogger Template by Ipietoon Blogger Template