Rabu, 15 Februari 2017

15th February 2017

Even a paragraphs it's hard to read without a space.... maybe sometimes we also need a spaces,

Doesn't we can move when there's a gap?

Dan Bukankah kita baru tau arti kehilangan setelah di ditiggalkan? - A. M.

Jumat, 10 Februari 2017

10 Februari 2017

Sama seperti hari sebelumnya, jum'at ini di guyur dengan hujan yang cukup membuat badan enggan beranjak dari peraduan, pagi ini ibuku ulang tahun... yang ke-42, sungguh tapi dia tengah bekerja di Jakarta. aku benci dokumentari, tapi aku lebih benci ketika ibuku harus bekerja sedang aku di rumah, menjaga adik seperti tak berguna. aku benci menjadi seperti itu, sungguh...

Review now

Sabtu, 21 Januari 2017

Let Go - Oneshoot


Author: Amalia Marina; Picture: Gerimisore
"You are my universe and I'm just a storm for you"



Angin berhembus, menghapus jalanan, membiarkan rintik gerimis menggelantung di atas atap halte, gemericik yang tadinya perlahan berubah jadi gaungan dari hujan lebat yang menderu, Jun merapatkan jaketnya, berusaha mengusir dingin yang melilit dan sesak di dada karena penantian, butuh waktu sepuluh menit -dan rasanya sepuluh menit itu penantian yang begitu lama, seolah sepuluh menit itu separuh dari masa hidupnya- sosok itu kemudian muncul dengan jaket biru pastel seragam P.E-nya, berlari kecil melintasi jalan, mendekati Jun yang cuma bisa melambaikan tangan dengan kaku. Sudah lama dia tidak melihat gadis itu, sudah lama... Ya karena gadis itu sellau menghindarinya, Hazuki Rin, dan dia seperti biasanya dengan pesonanya yang luar biasa, entahlah... Sulit menjelaskan bagian mana yang kurang dari dirinya, dan begitulah... Sulit bagi Jun pula menjelaskan hubungan diantara mereka berdua.

"Senpai, gomenne sudah menunggu lama..." Rin membungkuk kaku, wajah itu basah... Dan tangan Jun perlahan mengusap bulir air yang mengalir dari pelipisnya,

'kulitnya halus'  gumanan itu mencelos dalam hati Jun, dan bersamaan dengan aksinya Hujan seolah tak bersuara, terperangkap dalam keadaan hening dan kaku, Rin membeku dalam adegan tiga detik itu, dan Jun jadi salah tingkah sendiri karena sikapnya.

"Gak kok, belum lama...kenapa terburu-buru? Kamu jadi basah begini." tukas Jun yang mencoba untuk menetralkan suasana.

"Ya aku kan gak enak sama senpai..."
"Daijobu, menunggu memang sudah keahlianku..." Jun menjulurkan payungnya, dan Rin lagi-lagi membeku, terperangkap dalam kalimat Jun yang seolah menginti padanya.

"Ayo pulang..." Jun berjalan perlahan, di buntuti Rin yang ada di belakangnya.
"Senpai bawa dua payung?"
"Hmmm" hanya bunyi itu yang terdengar, bersahutan bersama bunyi hujan yang bergetar menimpa payung mereka.
"Kenapa?" Tanya Rin yang masih membuntuti jejak Jun di depannya.
Jun berhenti, berbalik dan menatap Rin sejenak, sampai laju kakinya berlanjut, Rin bagai disihir oleh hujan dan tatapan Jun
 'Kenapa? Kenapa harus tatapan itu?' Rin mengeratkan pegangan payungnya, hatinya bagai ada yang mengiris.

"Pertama, sudah kebiasaanmu tidak pernah membawa payung, padahal sekarang sudah musim hujan, Kedua karena aku yang mengajakmu pulang bersama jadi mau tak mau aku harus ada antisipasi kalau perkiraanku benar, dan ketiga...." berhenti sejenak, Jun menghembuskan nafas berat.

"Bukankah akan sangat tidak menyenangkan satu payung denganku?" Jun memutus kalimatnya dengan pertanyaan, kebingungan... Rin hanya bisa membisu.

"Senpai... Kau tahu? Ketika senpai mengajakku pulang bersama, rasanya seolah kita benar-benar masih memiliki harapan... Dan..." Rin kini buka suara, tidak mau kalah menyuarakan isi hatinya.
"Kau tahu kenapa aku mengajakmu pulang bersama?" Jun memutus kalimat Rin dengan pertanyaan lagi, tanpa berbalik, Rin hanya bisa memandang punggung Jun yang semakin mendingin.

"Karena aku ingin tahu, apa masih ada harapan untuk kita? Apa kau masih memberiku harapan? Karena bagaimanapun... Aku tidak pernah bisa berhenti... Tidak, mungkin aku tidak mau berhenti berharap." Senyum terpaksa itu terukir di bibir Jun, lelaki itu jadi melankolis, padahal orang-orang sering bilang kalau mantan ketua osis itu orangnya kalem, entahlah... Urusan hati jadi membuatnya dramatis begini.

"Kalau begitu jangan..." ucap Rin, maka berbalik lah Jun dan menatap dalam-dalam manik cokelat Rin.
"Apa kamu tidak paham? Aku benci ketika kamu memberiku harapan tapi seolah tiada harapan, aku benci pada aku yang bahkan melupakanmu saja susah... Kenapa? Kenapa kamu tidak menghilang saja, dan kenapa aku tidak melupakanmu saja supaya urusan ini tidak serumit benang kusut." Jun masih menatap Rin yang membisu.

"Bagaimana bisa aku menggenggam tanganmu kalau kamu bahkan tidak di sampingku? Bagaimana bisa kamu memberikan harapan padaku kalau kamu sendiri bahkan ketakutan pada perasaanmu" Jun berjalan meninggalkan Rin yang tidak melangkah dari tempatnya, kisah mereka memang tidak rumit, hanya kisah cinta biasa dimana Rin menyukai Jun dan Jun menyukai Rin, tapi tidak bisa, karena ada Harumi di antara mereka, Harumi teman Rin, dia juga menyukai Jun... Jauh sebelum Jun bertemu dengan Rin, dan Rin mau tak mau harus memendam perasaanya, tidak enak, dan juga merasa bersalah pada perasaannya dan pada Jun yang slalu menunggunya.
Tapi bagaimanapun perasaan tidak pernah bisa dihapuskan begitu saja, hati tidak pernah berbohong, Rin masih mematung menatap punggung Jun yang menjauh, sampai sosok itu benar-benar hilang di persimpangan jalan, Rin tersendu, air matanya mengalir tanpa di minta

"Gomen, senpai...."


-Menyedihkan jika aku memutus persahabatan karena perasaan,
Tapi menyedihkan jika aku bertahan dan diam, karena aku egois menginginkannya untukku seorang-



Review now

Hujan - Drop 1

Author: Amalia Marina;Picture: Xiao




“Baiklah, kalau begitu buat Pr-nya halaman 8 sampai 13 di kerjakan di rumah ya, besok di kumpulkan di meja Bapak sebelum bel masuk harus sudah terkumpul semua, kalau ada satu yang kurang bapak tambah Pr -nya sampai halaman 25 dan di kumpulkan di hari berikutnya.” Pak Maman keluar kelas dengan senyuman sinisnya, guru Matematika itu memang paling jago membuat kontroversi, banyak siswa di buat kewalahan olehnya, tugas seabreg adalah keahliannya,  sementara itu anak-anak kelas  bersorak kecewa dan pasrah di lain sisi, seisi kelas jadi riuh karena Pak Maman lagi-lagi ‘buat onar’.
“Kejam bangettt...”
“Deh, gemes banget... pengen gue bejek aja tuh papan tulis.” Riko yang paling emosi menggebrak meja.
“Gue ngerjainnya ngasal aja ah, orat-oret gak jelas.” Lanjut Riko dengan seringainya, dia memang yang paling anti sama pelajaran Pak Maman, bukan tanpa sebab juga sih, karena Pak Maman paling suka membuat Riko malu dengan menyuruhnya mengerjakan soal di papan tulis atau bahkan menjelaskan apa yang barusan Pak Maman jelaskan, hari ini saja hampir hampir tiga kali Riko di panggil ke depan untuk mengerjakan soal dan tentu saja tiga-tiganya salah, alias ngaco, membuat seisi kelas menyorakinya dan entah berimajinasi atau bagaimana Riko selalu mendapati wajah tersenyum Pak Maman ketika ia di soraki seperti itu, wajah guru itu persis seperti lawan Angry Bird ketika gagal terkena bandring, tahu lah lawannya yang mana, gak usah di sebutin juga, gitu-gitu Pak Maman guru.
“Afgan anjeeeer.” Tukas anak-anak kelas 12 IPA 4. Tapi lagi-lagi mereka gak kuasa, udah hampir kelar nih sekolah, ya udahlah gak apa-apa... sekalian berbakti sama guru sekali-kali. Pikir sebagian begitu.
“Eh Nit, lu besok dateng pagi yah, biar gue bisa nyalin sedikit-sedikit...” Juli berkata cempreng dari ujung sana pada Anitha, Anitha hanya tersenyum tak mengiyakan, tadinya gadis itu ingin mengusulkan untuk mengerjakan bersama-sama hari ini, namun anak-anak sudah keburu pulang... kalau di paksakan, dia pasti yang jadi korban, mengerjakan semua soalnya sementara yang lain tinggal nyalin saja, kebiasaannya sih begitu.

Langit hanya terdiam, tidak fokus dengan sekitar, tangannya beringsut memasukan bukunya ke tas, sejenak ia menatap keluar seperti memikirkan sesuatu tapi kesejenakan itu nampaknya bakal menjadi selamanya kalau saja sebuah tangan tidak dengan kasar menyadarkan lamunan siang bolongnya itu.

“OI!” Langit terperanjat, wajahnya menunjukan ekpresi kesal dan bersyukur, kesal karena kalau ia jantungan dia pasti sudah mati di tempat dan bersyukur karena yang di hadapannya kini adalah manusia alias partnert in crime nya, bukan jin iprit atau jejelmaan lainnya.

“Lu tuh yah, bacotnya gede amet, kaget tau...” Gerutu Langit sambil mengelus-elus dadanya.
“Yaelah lebay lu, sini gua elusin dadanya...” Raka mengulurkan tangannya namun Langit menepis dengan kasar, membuat Raka terkikik geli melihat tingkah temannya itu. Hampir semua siswa sudah keluar kelas dan tinggal beberapa yang masih tersisa di dalam, mengobrol santai atau sekedar menunggu sekolah sepi, bergosip ria membicarakan orang-orang populer di sekolah, membahas tentang kekejaman guru dan betapa membosankannya kehidupan akhir sekolah ini. Buang-buang waktu, padahal mereka baru saja di beri tugas seabreg oleh guru favorit  mereka, namun nampaknya gak ada kepedulian sedikit pun.
“Anjeeer jangan cari kesempatan dalam kesempitan deh lu.” Langit ikutan tertawa, mereka memang sama-sama gila, pikir Anitha yang masih ada di kelas mengerjakan Pr mungkin, entahlah... gadis itu terlihat sedang sibuk menulis tapi tentu saja dia mendengar percakapan Langit-Raka dengan jelas, Anitha duduk tepat di depan Langit, gadis yang menjadi juara umum pertama di sekolah, catat di sekolah bukan di kelas, itu artinya dia  siswa paling pintar yang artinya dia lebih pintar dari Langit dan Raka yang artinya dia itu gak gila seperti mereka berdua. Jadi, Anitha pasti gak tertarik dengan obrolan ngaco Langit-Raka.

“Lagian elu nih ya, kapan warasnya sih Lang? Kalo enggak nonton bokep yah kerjaan lu pasti bengong liatin langit, demi kucing gue yang masih perawan lu liatin sampe kapan juga gak bakal turun bidadari dari khayangan keles.” Tukas Raka dengan wajah mengece. Langit menjitak kepala Raka dengan keras sambil mengapit leher Raka dengan tangan kanannya.
“Bau ketek oi!!” Raka memekik membuat Langit melepas apitannya.

“Sialan, elu kan bandarnya bokep, kagak usah lempar kentut sembunyi pantat deh, lagian juga hak gue dong mau ngapain aja, idup-idup gue...”
“Taek lu... biasanya juga elu suka request ke gue, nih yah... idup emang idup elu, tapi tengsin dong masa gue yang tampan ini punya temen suka bengong, mending bengong doang, ini pake mangap segala, titisan kuda nil lu?”
BRUKKK
 Anitha membereskan bukunya dengan sedikit menggebrak meja.

“Eh Nit, sorry ya... dia emang berisik” Kata Langit dengan sedikit nyengir ala kuda, Raka menjitak kepala Langit dengan keras.
“Kayak elu kagak aja...” protes Raka dengan wajah tidak terima, Anitha sendiri cuma nyengir-nyengir kecil. Membuat keduanya ikutan nyengir entah karena apa, kelas hening sebentar, sebelum akhirnya Anitha buka suara.

“Gak apa-apa kali, gue tadi kagak sengaja ngegebrak meja... udah lanjutin aja ngerempongnya.” Anitha yang tadinya tersenyum kecil sekarang merubah ekspresinya dengan wajah seperti ‘kalian tuh bisa enggak enyah dari sini’
Dengan segera Anitha melenggang meninggalkan keduanya yang masih terpaku dengan kepergian gadis berkuncir kuda itu, Ria dan Santhi mengikuti Anitha keluar sambil mengobrol. Bersama Adit dan Kiki yang ikut melenggang keluar, sepertinya akan mengikuti ekskul basket.Di kelas kini tersisa mereka berdua saja.

“Cakep sih, tapi kagak nahan judesnya hahaha.” Raka tertawa garing.
“Cieee naksir nih ceritanya?” Langit terkikik sementara Raka diam tak bergeming, wajahnya memerah, Langit yang membaca jelas perubahan mimik di wajah Raka ikutan terdiam dengan tidak percaya. Ini imajinasi atau kenyataan? Seorang Raka? Yang kerjaannya mantengin komputer  maen game ampe belo, punya ketertarikan sama cewe di dunia nyata? Dan lagi cewe itu adalah  ANITHA NIAR PRAMESTI sedangkan dia? CARAKA itu saja namanya, sangat simple, sedang ANITHA? Namanya saja sudah luar biasa panjang, otaknya pintar, ortunya punya rumah, rumahnya gak biasa pula, apartment di kawasan elit, gedung yang warnanya paling biru yang dinamain Pramesti Tower itu bukan sekamar dua kamar milik keluarga Anitha, tapi gedungnya adalah MILIK MEREKA! Raka sendiri, sebenernya gak terlalu low class banget sih, hahaha langit tertawa dalam hati, Raka itu bapaknya dokter bedah, ibunya punya bisnis batik, cuma Raka aja yang rendah hati, kesekolah muka kusut, baju dekil,makan pengen di traktir, dan kadang suka lupa bayar SPP, seringkali di panggil pihak administrasi, ujung-ujungnya Langit suka minjemin Raka duit yang pasti di bayar tiap tanggal 7. Tapi, bukan berarti Raka gak di urus, ya emang bocah itu kelakuannya aja yang rada aneh, seperti yang sudah di jelaskan, Raka itu sedikit wajarnya, banyak gilanya dan sedang lah otaknya. Langit tersenyum.

“Seriusan?” Tanya Langit dengan masih tidak percaya, Raka lantas melenggang keluar kelas tanpa menjawab pertanyaan Langit.
“OI! Cie malu nih ceritanya...” Langit terkikik geli mengamati tingkah temannya itu yang jadi salah tingkah.
“Berisik lu...” Raka tersenyum, sementara Langit berlari pelan mendahului Raka yang semula meninggalkannya.
“Gue duluan ah, ada urusan!!” Pekiknya lalu melesat kencang.
“Mau kemana lu? Gak ngerjain tugas MTK?!” Tanya Raka dengan penasaran dan sedikit berteriak, padahal sudah tertera larangan berteriak di koridor sekolah, tapi ya namanya anak muda jaman sekarang memang bebal dengan peraturan.
“RAHASIA!! GAK! YANG ADA ELO NYONTEK” jawab Langit dengan sekidit bumbu misteri agar Raka semakin penasaran,padahal ya Langit cuma mau pulang saja, emang dasar kunyuk bisa-bisanya aja bikin orang penasaran.

Ketika Langit melewati gang-gang itu hari sudah menjelang sore, awan mendung menyelimuti langit sementara ia sendiri masih asik mengayuh sepedanya sambil sesekali menyapa penjaga toko yang ia kenal, sampai ia berhenti di sebuah toko yang menjual kue kacang merah, Langit bergegas memesan sebelum langit di atas menghitam semakin jadi.

“Kayak biasa Bang...” tukasnya  pada Ken yang umurnya terpaut 10 tahun darinya, cowok campuran Jepang-Indonesia yang bernama lengkap Masaaki Kenji itu tersenyum mengangguk.
“Nih, arigatooo ne.” Tukasnya dengan membungkuk sedikit pada Langit,padahal Ken itu lahir di Indonesia, tapi dia bangga sekali punya darah Jepang di tubuhnya, itulah kenapa dia sangat suka membungkuk, kebiasaan khasnya, ‘kebiasaan orang Jepang kan emang gitu’ begitulah jawaban Kenji ketika Langit pertama kali protes tentang bungkukannya, Langit yang tidak kehabisan jawaban menyergahnya dengan bilang
‘Lah, ini kan di Indonesia, peribahasanya di mana tanah di pijak, di situ langit di junjung, if youre in Rome, do as a Roman!’. Kata Langit dengan sok-sok an pake bhasa Inggris yang dia sendiri gak tahu itu bener atau salah, dia ngomongnya aja pabeulit gitu hahaha Namun nampaknya Kenji sudah kebiasaan dan gak mengindahkan perkataan Langit, Langit sendiri sih jadi terbiasa sama kebiasaan Kenji itu, ‘yah terserah dia ajalah, punggung-punggung dia’
 Langit memang sudah keranjingan kue di toko itu, jadi kurang pas kalau sehari saja ia tidak makan kue kacang merah itu, toko itu sendiri sudah berdiri di sana sejak Langit pindah ke kota ini, dan Ken sendiri adalah generasi ke-2, melanjutkan usaha ayahnya yang keturunan Jepang tulen. Langit jadi inget, dia ketemu Raka di Toko ini juga, temen pertamanya di kota ini, yang ia kenal karena berebut kue kacang merah terakhir, waktu itu kuenya tersisa dua dan mereka berdua keukeuh pengen beli dua, gak mau berbagi gitu, rumah Raka sendiri gak jauh toko ini,cukup jalan 7 menit juga sampe.
“DO ITA SHI MAS SHIIITAAAAAA...” Pekik Langit membuat Ken menjitak kepalanya.
“Aduh, sakit Om... gue bilangin emak gue luh!” Canda Langit seraya nyengir kuda.
“Lebay tau, pake mangap-mangap segala, kayak kuda nil!” Langit memincingkan mata, sudah dua orang yang memanggilnya kuda nil hari ini, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, apakah iya dia segitu sukanya mangap-mangap tidak jelas? Langit menggeleng tidak setuju, seingatnya tidak begitu ah, dia tidak percaya, toh ibunya selalu bilang kalau Langit itu ganteng mau di bagaimana kan pun, kata ibunya catat itu.

“Yehhh malah ngelamun lagi, udah mah mangap, ngelamun pula... haduuuuh.” Lagi-lagi Langit memincingkan matanya, sialan! Kok kata-kata mereka sama gitu ya? pikir langit mengingat kesamaan Raka dan Ken.

“Biarin  mangap tetep ganteng kan?” Langit mencolek dagu Ken dengan genit, Ken jadi geli sendiri.
“Ampun nih bocah kesambet jin taman lawang kali ya? perasaan si Raka kagak gini-gini amat...” Ken bergidik membayangkan yang tidak-tidak, Kenji memang salah seorang keturunan jepang yang mempercayai hal-hal seperti itu, entah mungkin karena ia terlalu banyak menonton anime, mungkin.
Langit terkikik, “Sini godain ekyeee dongg...” kata Langit lagi membuat Ken menjauh.

“Songong nih bocah,” Ken terkikik geli.
“Eh Bang, lu punya kenalan cewek sepantaran gue kagak? Jepang juga kayaknya... sipit sih matanya.” Langit mengamati Ken dengan serius, berusaha untuk membuat suasana jadi tegang, di pincingkan matanya setajam mata elang.
“Banyak, kenapa emangnya?”
“Pedofil anjeeeer... hahahaha”
“Kamvret.” Kenji yang tadinya berusaha untuk serius malah makin gereget dengan kelakuan bocah SMA itu
“Gak! serius, tuh ada cewek pake gaun pink selutut lagi liatin elu di luar, ada tahi lalat di ujung mata kirinya.” Mata Ken membulat, dia tahu benar sosok itu...

“Elu....” Langit menaikkan alisnya dan tersenyum miris.
“Iya, gue apa?”
“Elu ngarangnya bisa banget, sialan hahaha.”  Ken tahu benar, sosok itu... tidak pernah ada, dasar bocah kampret!
“Yaelah karangan gue meleset padahal tadinya gue mau bikin elu GE ER Jones kan paling gampang di bikin baper, Eh Bang udah nonton AOT  belom?”
“Kurang ajar nih bocah, ngatain gue lagi! AOT? Apaan tuh? ALOT maksud lu? Film nya Mbah Jambrong? Hahaha”
“Yeee ngarang lagi, Attack On Titan, anjaay gitu aja masa gak tahu”
“Lah penting gitu? Lagian juga ngapain di singkat-singkat, udah kayak gelar aja.”
“Biar gak melilit lidah gue ngomongnya.”
“Kebanyakan makan tali sih lu, Tong.”
“Wah, kue lu pake tali, Bang?”
“Iyeee, tali pocong perawan, enak ye?” Canda Kenji sambil melotot menatap Langit yang sedang berpikir.
“Kirain tali kutang elu Bang hahaha” dan rupanya bocah ini gak kehabisan kata-kata untuk membalas Ken, selalu saja ada hal gak bermutu yang membuat Ken menganga, seharusnya Kenji sudah biasa dengan hal itu, tapi tetap saja, Langit memang bocah koplok yang berbeda, sedikit iri, Ken berharap bisa sedikit koplak seperti itu, modal buatnya untuk bisa mendekati cewek, tapi jangan sampai koploknya keterlaluan seperti Langit, bisa di sangka Freak dia nanti, ganteng dan freak itu adalah campuran yang gak banget, menurut kamus Kneji sih begitu.
“Ngaco nih bocah, udah-udah sono pulang lu. Lu rese kalo udah sore, di ajarin apa sih sama guru lu ampe otak lu kek gitu?”
“Gue harus jawab dulu apa gue harus pulang dulu nih?”Langit nyengir kuda
“Bikin gue darting aja, mangkat lu sono...”
“Lagian di suruh pulang tapi malah nanya-nanya, kepo ya? cieee yang care sama gue”
“Yeee nih bocah malah caprak aja, sono dah...”
Langit tertawa terbahak, lantas berjalan keluar.
“Bang, lu imut deh kalo lagi marah, bikin gue pengen ngegigit...” ucap Langit sebelum meninggalkan tempat itu, Ken hanya geleng-geleng kepala, bocah itu selalu sukses bikin ia merinding.

“Geli oi!!” Ken berteriak
Tak ada balasan dari Langit, bocah itu telah mengayuh kembali sepedanya, “Gue aja geli yang ngomongnya, apa lagi elu hahaha...” sindirnya dalam hati.
Dengan kecepatan full Langit mengayuh sepedanya namun hujan malah mengguyurnya tanpa ampun, Langit pasrah dan mengendurkan kayuhannya.
“kebanyakan ngorbrol sih jadi begini, beuhh dia kan belom jawab pertanyaan gue....” Langit merutuki dirinya sendiri, kepalanya berputar ke kanan dan menyadari sosok yang di kenalnya, di hentikan sepeda itu dan ia memandang ke arah sosok yang sedang terdiam di bawah payung berwarna kuning terang sambil menatap ke arah langit.

“Lah, dia malah disitu?” Langit yang basah kuyub menuntun sepedanya dan berjalan perlahan mendekati sosok bergaun pink selutut itu.
“Oit?!” pekik Langit membuat si sosok itu berputar ke sang suara,
Langit  membungkukkan badannya untuk melihat sosok itu.
“Kok lu ada disini sih Bi?”

 Langit menatap perempuan itu dengan serius. Perempuan itu 5 tahun lebih tua darinya, tapi dia masih terlihat muda, seumuran dengan Langit karena tingkahnya, Langit memanggilnya Bibi, meskipun namanya adalah Hujan Khatulistiwa, tapi perempuan itu terlihat tidak masalah, karena Bi dalam bahasa Korea juga berarti Hujan, sebagai penggemar K-pop, Hujan malah senang di panggil seperti itu,awalnya Langit merasa kalau nama itu unik dan aneh, Hujan sendiri menganggap bahwa nama Langit terdengar sangat feminim, Langit Senja, kenapa pula orangtuanya menamai dia begitu, dari nama lah mereka jadi akrab, meskipun mulanya terjadi karena jemuran baju Hujan yang terbawa angin ke apartment sebelahnya, yang gak lain adalah kamarnya Langit. Saat itu Langit mengembalikan kaos bergambar Ultraman Mebius itu, entah bagaimana dia nyeletuk ‘suka anime?’ cewe yang dikira semula seumuran dia itu menjawab ‘banget, dari kecil suka banget Doraemon’ dan Langit sukses di buat kikuk dengan jawaban itu, terlebih saat ia di ajak masuk ke dalam apartment untuk ajang pamer koleksinya, ada sebuah ruangan, khusus maenan, isinya itu ada meja gede berisi miniatur kereta api, lengkap sama rel, stasiun, rumah-rumah kecil plus orang-orangnya, oiya di ruangan itu juga ada patung Dart Vader setinggi 180 cm yang gak lain adalah tokoh dari film Star Wars, terus ada poster Anakin Skywalker sama si Obi-Wan Kenobi yang menjadi karakter favoritenya si Hujan dan langit-langit ruangan itu di pasang kayak rasi-rasi bintang gitu, selain itu juga Hujan punya teropong bintang yang Super keren, sejak saat itu Langit suka maen cuma buat nonton anime bareng, sejak saat itu juga Langit mengenal Hujan secara perlahan, seperti umur mereka yang terpaut lima tahun atau hal-hal sepele seperti Hujan yang suka banget makan apel sama jeruk, kulkasnya gak pernah kehabisan buah itu. Namun, masih menjadi misteri kenapa ia menetap di Indonesia, tanpa orang tua, karena Langit baru-baru ini mengetahui kalau orang tuanya di Inggris.
 “Ujan... indah banget ya...”
“Apaannya yang indah? Cuma aer doang.” Protes Langit tersadar dengan lamunannya tentang Hujan
Perempuan itu menatap Langit dengan sinis.
“Bocah kagak bakalan ngerti deh...” bibirnya manyun tanpa sadar, Langit menatapnya tanpa berpaling, sinar mata bocah laki-laki itu berkilat.
“Ya jelasin dong biar ngerti...”
“Au ah, capek ngejelasin sama kamu mah, bebel.... yang ada malah cengengesan nantinya.”
Hujan menatap Langit dengan sarkatis. Dia manyun lagi.
“Lagian ngapain juga elu ujan-ujanan, kayak bocah beneran deh...” lanjut perempuan itu menatap Langit dari atas sampai bawah, badannya basah semua.
“Pake payung juga gak mempan keles, orang ujan campur angin gini, udah pasrah aja...”
Hujan tersenyum, Langit benar, buktinya bajunya juga basah.

“Udah sono pulang gih, nanti lu sakit gue yang repot...”
“Lah, apa urusannya sama elo ho?”
“Tadi emak lu nitip elu ke gue, katanya dia ada proyek ke luar kota, seminggu-an lah paling sebentar.”
Langit melongo, gak salah denger tuh, seminggu paling sebentar? Langit menatap Hujan yang kini memandangi langit lagi, tangannya terulur keluar payung agar rintik itu menghujam tangannya tanpa ampun, Hujan tersenyum sekilas, membalik tangannya dan menjentik-jentikkan tangannya di udara seperti sedang bermain piano, dia bergumam kecil, seperti bernyanyi tanpa lirik, hanya nada-nada yang tak di mengerti oleh Langit, tapi yang pasti bocah laki-laki itu tahu kalau gumaman Hujan bukan sountracknya Mario Bros, itu yang paling penting!

“Cantik...” lirih Langit membuat Hujan bebalik menatap bocah itu.
“Apaan yang cantik?” tanya Hujan penuh penasaran, Langit menggaruk kepalanya yang gak gatel.
“Hujan...” kata Langit dengan tatapan dalam pada Hujan, entah Hujan yang mana yang menurut nya cantik.
“Lucu, baru denger gue ada yang bilang Hujan itu cantik” Hujan tersenyum mengejek, sebelum perempuan itu menyadari ucapannya, dia mencerna makna kalimat itu dengan seksama, Langit hanya terdiam membiarkan perempuan itu mengartikan kalimatnya, Langit lantas tersenyum sekilas menatap Hujan yang tertunduk menatap sandal jepitnya yang tergenang air, mungkin perempuan itu sudah mengerti kemana maksud kalimatnya berlabuh.
“Eh, minggu ini nyepeda nyok?” tukas Hujan untuk mencairkan suasana.
“Hayooo...” jawab Langit, bete juga sih belajar terus, yah kelas tiga namanya juga makanan sehari-harinya yah belajar-belajar dan belajar, ngomong-ngomong belajar, dia ingat ada PR dari Pak Maman.
“Tapi ini bukan kencan! Inget lho!” Hujan berjalan mendahului Langit, membuat bocah itu terkikik geli.
“Iya Bibiiiiiiii~ lagian juga siapa yang mau kencan sama bibi-bibi” Langit tertawa, di balas dengan cipratan  yang Hujan buat dengan menghentak genangan air dengan kakinya, Langit gak mau kalah dia membalas Hujan, namun perempuan itu kabur membuat Langit mati-matian mengejarnya.

“Dongo, kenapa juga gue narik-narik sepeda gini... adeuuuh.” Menyadari kecerobohannya dan menyadari Hujan yang menghilang meninggalkannya sementara ia ngos-ngosan karena harus menarik-narik sepeda membuat Langit tersenyum, udah kayak bocah kalau di pikir-pikir.

“Apes! Buku sama kue gue basah gak yah?!” dia menaiki sepeda dan mengayuhnya dengan kekuatan 120km per jam, kecerobohannya yang lain, dia itu pelupa!



****

Review now

Quotes Of The Day

Drawing by: Gerimisore


Bukan karena tanpa sebab sseorang di pertemukan, bisa jadi... itu suatu pelajaran bagi kita untuk memahami bahwa apa-apa yang ada di dunia ini tak selamanya dan tak semuanya harus kita miliki, karena hidup adalah perjuangan bukan sebuah pemenangan.



Review now

Rindu

Aku rindu pada diriku yang tanpa dirimu pun aku baik-baik saja.- Amalia

Berulangkali hati berusaha untuk mengingat betapa rasa sakit itu memang benar-benar perih adanya, namun... berusaha jadi bodoh itu gampang, berusaha jadi dungu itu mudah, kau tinggal menjawab tiga, ketika gurumu bertanya berapa hasil dari satu tambah satu, urusan hati selalu begitu, padahal nasehat-nasehat dari orang yang telah leibh dulu merasa kecewa sudah berulangkali hinggap di telinga, tebaca melalui teks kasat mata, dan terlisankan dari bibir-bibir yang bersumpah pada kebenaran, namun itulah bodoh kiranya, ah tidak... bodoh adalah ketidaktahuan, tapi hati jelas-jelas sudah mengetahuinya... namun mengingkari kebenarannya, lantas idiot mungkin pantas untuk menjabarkan hati-hati yang berusaha untuk memperthankan diri padahal sudah jelas jawaban akhirnya tidak seperti yang di ingini.


Aku masih disini merutuki diri sendiri ketika ku raih handphoneku dan betapa sengsaranya aku mengiriminya pesan penuh hasrat yang kini ku tangisi setiap malam, kata cinta yang begitu menggebu-gebu, dengan emoticonmalu dan hati yang terlampau dari seharusnya, mungkin benar aku idiot mengijinkan rindu menguasaiku lagi, mungkin benar aku bodoh...membiarkan hati lagi-lagi mengalahkan ke rasionalan pikiran, aku benar-benar tak mengerti apa yang harus ku lakukan kalau di setiap doaku namanya dan wajahnya yang terbayang begitu saja, Tuhan mungkin cemburu, Tuhan mungkin memberikan cobaanya padaku saat ini.

Subang, 18 Oktober 2016

Review now
 
Coffe, Milk and Tea... Blogger Template by Ipietoon Blogger Template