Sabtu, 21 Januari 2017

Let Go - Oneshoot


Author: Amalia Marina; Picture: Gerimisore
"You are my universe and I'm just a storm for you"



Angin berhembus, menghapus jalanan, membiarkan rintik gerimis menggelantung di atas atap halte, gemericik yang tadinya perlahan berubah jadi gaungan dari hujan lebat yang menderu, Jun merapatkan jaketnya, berusaha mengusir dingin yang melilit dan sesak di dada karena penantian, butuh waktu sepuluh menit -dan rasanya sepuluh menit itu penantian yang begitu lama, seolah sepuluh menit itu separuh dari masa hidupnya- sosok itu kemudian muncul dengan jaket biru pastel seragam P.E-nya, berlari kecil melintasi jalan, mendekati Jun yang cuma bisa melambaikan tangan dengan kaku. Sudah lama dia tidak melihat gadis itu, sudah lama... Ya karena gadis itu sellau menghindarinya, Hazuki Rin, dan dia seperti biasanya dengan pesonanya yang luar biasa, entahlah... Sulit menjelaskan bagian mana yang kurang dari dirinya, dan begitulah... Sulit bagi Jun pula menjelaskan hubungan diantara mereka berdua.

"Senpai, gomenne sudah menunggu lama..." Rin membungkuk kaku, wajah itu basah... Dan tangan Jun perlahan mengusap bulir air yang mengalir dari pelipisnya,

'kulitnya halus'  gumanan itu mencelos dalam hati Jun, dan bersamaan dengan aksinya Hujan seolah tak bersuara, terperangkap dalam keadaan hening dan kaku, Rin membeku dalam adegan tiga detik itu, dan Jun jadi salah tingkah sendiri karena sikapnya.

"Gak kok, belum lama...kenapa terburu-buru? Kamu jadi basah begini." tukas Jun yang mencoba untuk menetralkan suasana.

"Ya aku kan gak enak sama senpai..."
"Daijobu, menunggu memang sudah keahlianku..." Jun menjulurkan payungnya, dan Rin lagi-lagi membeku, terperangkap dalam kalimat Jun yang seolah menginti padanya.

"Ayo pulang..." Jun berjalan perlahan, di buntuti Rin yang ada di belakangnya.
"Senpai bawa dua payung?"
"Hmmm" hanya bunyi itu yang terdengar, bersahutan bersama bunyi hujan yang bergetar menimpa payung mereka.
"Kenapa?" Tanya Rin yang masih membuntuti jejak Jun di depannya.
Jun berhenti, berbalik dan menatap Rin sejenak, sampai laju kakinya berlanjut, Rin bagai disihir oleh hujan dan tatapan Jun
 'Kenapa? Kenapa harus tatapan itu?' Rin mengeratkan pegangan payungnya, hatinya bagai ada yang mengiris.

"Pertama, sudah kebiasaanmu tidak pernah membawa payung, padahal sekarang sudah musim hujan, Kedua karena aku yang mengajakmu pulang bersama jadi mau tak mau aku harus ada antisipasi kalau perkiraanku benar, dan ketiga...." berhenti sejenak, Jun menghembuskan nafas berat.

"Bukankah akan sangat tidak menyenangkan satu payung denganku?" Jun memutus kalimatnya dengan pertanyaan, kebingungan... Rin hanya bisa membisu.

"Senpai... Kau tahu? Ketika senpai mengajakku pulang bersama, rasanya seolah kita benar-benar masih memiliki harapan... Dan..." Rin kini buka suara, tidak mau kalah menyuarakan isi hatinya.
"Kau tahu kenapa aku mengajakmu pulang bersama?" Jun memutus kalimat Rin dengan pertanyaan lagi, tanpa berbalik, Rin hanya bisa memandang punggung Jun yang semakin mendingin.

"Karena aku ingin tahu, apa masih ada harapan untuk kita? Apa kau masih memberiku harapan? Karena bagaimanapun... Aku tidak pernah bisa berhenti... Tidak, mungkin aku tidak mau berhenti berharap." Senyum terpaksa itu terukir di bibir Jun, lelaki itu jadi melankolis, padahal orang-orang sering bilang kalau mantan ketua osis itu orangnya kalem, entahlah... Urusan hati jadi membuatnya dramatis begini.

"Kalau begitu jangan..." ucap Rin, maka berbalik lah Jun dan menatap dalam-dalam manik cokelat Rin.
"Apa kamu tidak paham? Aku benci ketika kamu memberiku harapan tapi seolah tiada harapan, aku benci pada aku yang bahkan melupakanmu saja susah... Kenapa? Kenapa kamu tidak menghilang saja, dan kenapa aku tidak melupakanmu saja supaya urusan ini tidak serumit benang kusut." Jun masih menatap Rin yang membisu.

"Bagaimana bisa aku menggenggam tanganmu kalau kamu bahkan tidak di sampingku? Bagaimana bisa kamu memberikan harapan padaku kalau kamu sendiri bahkan ketakutan pada perasaanmu" Jun berjalan meninggalkan Rin yang tidak melangkah dari tempatnya, kisah mereka memang tidak rumit, hanya kisah cinta biasa dimana Rin menyukai Jun dan Jun menyukai Rin, tapi tidak bisa, karena ada Harumi di antara mereka, Harumi teman Rin, dia juga menyukai Jun... Jauh sebelum Jun bertemu dengan Rin, dan Rin mau tak mau harus memendam perasaanya, tidak enak, dan juga merasa bersalah pada perasaannya dan pada Jun yang slalu menunggunya.
Tapi bagaimanapun perasaan tidak pernah bisa dihapuskan begitu saja, hati tidak pernah berbohong, Rin masih mematung menatap punggung Jun yang menjauh, sampai sosok itu benar-benar hilang di persimpangan jalan, Rin tersendu, air matanya mengalir tanpa di minta

"Gomen, senpai...."


-Menyedihkan jika aku memutus persahabatan karena perasaan,
Tapi menyedihkan jika aku bertahan dan diam, karena aku egois menginginkannya untukku seorang-



Review now

0 komentar:

Posting Komentar

Read and Review please...

 
Coffe, Milk and Tea... Blogger Template by Ipietoon Blogger Template